Langsung ke konten utama

Belajar Online di Masa Wabah

Secara kodrati, anak-anak merupakan individu yang “tak bisa diam”. Mereka senantiasa aktif bermain, kendatipun dilarang oleh orangtua karena berbagai alasan. Bagi mereka, bermain adalah dunia yang asik sekaligus menyenangkan yang tidak bisa ditukar dengan barang berharga sekalipun.

Ketika pemerintah memberlakukan aturan untuk tidak belajar formal di sekolah karena merebaknya coronavirus disease (Covid-19), bagi anak-anak tentu merupakan sebuah kegembiraan sekaligus “beban”. Mereka yang terbiasa aktif di sekolah harus berdiam diri di rumah. Bagi mereka, tidak berangkat ke sekolah, berarti “liburan”. Meskipun liburan darurat yang disebabkan oleh wabah dan musibah yang melanda sejak akhir tahun kemarin.

Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan virus korona telah menyita perhatian dunia karena penyebarannya yang begitu masif. Sejumlah negara seperti Tiongkok, Iran, Italia, Amerika Serikat, dan negara-negara lain, turut merasakan dampak dari virus tersebut. Dari segi ekonomi, ini merupakan hal yang sangat mengkhawatirkan. Hal ini terbukti dengan merosotnya angka tukar rupiah dengan dollar AS sejak virus itu melanda.

Sejumlah tempat wisata di Indonesia pun ditutup. Kafe, mal, dan tempat-tempat lain yang berpotensi mengundang kerumunan juga disarankan tidak beroperasi untuk mencegah penularan wabah. Hal ini berdampak terhadap pendapatan berbagai usaha seperti hotel, penginapan, toko-toko retail, pedagang, dan lainnya, yang selama ini bergantung pada kunjungan wisatawan dari luar daerah.

 

Liburan Darurat di Tengah Wabah

Tak satu pun orangtua yang ingin jauh dari anak-anaknya, terutama di masa-masa perkembangan mereka. Namun, keadaan lah yang membuat para orangtua tidak bisa maksimal mendampingi anak. Bagi orangtua supersibuk dengan segudang aktivitas di luar rumah, tugas mendampingi anak lazim dilimpahkan kepada asisten rumah tangga yang diberi tugas menemani dan melayani kebutuhan anak-anak di rumah. Mereka harus meninggalkan rumah sebelum anak-anak mereka bangun dan beraktivitas, dan datang di saat anak-anak sudah tertidur pulas. Kesempatan untuk bercengkerama dengan anak benar-benar kurang, sehingga kerinduan untuk membersamai mereka di masa-masa emas tak bisa dibendung.

Liburan darurat terkait penyebaran virus korona tiga bulan terakhir ini mengubah segalanya. Orangtua yang selama ini sibuk di luar rumah dan tak sempat melihat anak-anaknya bangun pagi, akhirnya bisa dengan puas mendampingi anak-anak dan merajut kembali kedekatan yang selama ini sulit direalisasikan karena berbagai kesibukan.

Keputusan untuk bekerja dan belajar di rumah, sebagaimana dianjurkan pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus korona, setidaknya membuat para orangtua bisa membagi waktunya antara bekerja (secara online) dan mendidik anak secara langsung. Rutinitas yang semula harus berangkat pagi dan pulang malam sudah tidak lagi mereka jalani. Pada masa isolasi diri inilah, mereka harus bisa menjalin keakraban bersama anak.

 

Dampak Sosial Korona

Masa karantina selama 14 hari, sebagaimana anjuran pemerintah, seharusnya menjadi waktu berharga bagi para orangtua. Jangan sampai kedekatan mereka dengan anak-anak menjadi masalah baru dalam kehidupan keluarga. Tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Para orangtua yang harus membagi waktunya bekerja di rumah dan mengawasi anak-anak, pasti bisa menemukan solusi terbaik agar pekerjaan tidak keteteran. Anak-anak pun masih bisa dekat dengan orangtua.

Dalam opininya berjudul Virus Korona dan Keluarga Indonesia (Media Indonesia, 20/3/2020), Seto Mulyadi memberikan gambaran dampak sosial yang terjadi terkait virus korona yang mengharuskan orang mengkarantina diri. Katanya, kita bisa becermin pada lockdown yang diberlakukan di Wuhan, Tiongkok. Alih-alih menjadi momentum bagi pelekatan ikatan keluarga, isolasi diri di dalam rumah justru berdampak sosial yang tidak sederhana.

Kepolisian di Jingzhou Jialy Country ialah satu dari sekian kantor polisi yang menerima peningkatan laporan tentang kekerasan dalam rumah tangga. Pada Februari 2020, masuk 162 laporan, dan itu adalah tiga kali lipat lebih tinggi daripada jumlah laporan sejenis sebelum diberlakukannya lockdown. Sekian banyak ilmuwan psikologi juga telah memperkirakan bahwa, dalam situasi bencana yang memaksa dilakukannya karantina diri, jumlah kelahiran dan perceraian akan meningkat.

Apa yang terjadi di Wuhan, Tiongkok, selama masa lockdown, semoga tidak terjadi pada keluarga-keluarga di Indonesia. Masa karantina yang disarankan pemerintah hendaklah menjadi perhatian sekaligus introspeksi bahwa ada banyak hal yang perlu dilakukan, terutama untuk menekan angka penyebaran virus korona yang melanda. Jumlah kasus yang meningkat tajam hendaklah menjadi perhatian agar kita tetap mematuhi protokol pemerintah.

Virus korona bukan wabah yang bisa dianggap remeh. Ribuah pasien yang dinyatakan positif dan korban meninggal yang tidak sedikit menunjukkan bahwa, virus ini menyerang imun manusia. Karena itu, protokol kesehatan hendaklah diperhatikan seperti menjaga kebersihan dengan mencuci tangan secara rutin dan menghindari kerumunan yang berpotensi menjadi sarang menyebarnya wabah. (*)

 

*) Untung Wahyudi, lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

[REVIEW] Kasih Sejuta Bunda

Bingkisan Kasih Sayang untuk Bunda dan Sesama Judul Buku       : Kasih Sejuta Bunda Penulis              : Lisma Laurel, S. Gegge Mappangewa, dkk. Penerbit          : Indiva Media Kreasi, Solo Tebal                : 144 Halaman Cetakan            : Pertama, 2020 Harga              : Rp39.000   Awal 2011, penerbit Indiva Media Kreasi pernah menerbitkan sebuah novel anak berjudul Aku Sayang Bunda karya Nurhayati Pujiastuti. Novel yang pernah meraih penghargaan sebagai buku anak terbaik dalam event Islamic Book Fair itu berkisah tentang pentingnya menyanyangi seorang ibu. Ibu yang telah melahirkan anaknya dengan segenap perjuangan. Ibu yang selalu berlimpah kas...

Korona Menyatukan Keluarga Indonesia

  Menarik apa yang ditulis Seto Mulyadi dalam opininya berjudul Virus Korona dan Keluarga Indonesia (Media Indonesia, 20/3/2020). Mencuplik studi yang dimuat dalam The Economist (2017), ia menjelaskan bahwa para orangtua dari kelas menengah di 11 negara maju dewasa ini menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak-anak mereka. Mereka lebih banyak memperhatikan perkembangan anak-anaknya, tinimbang perhatiannya terhadap hal lain seperti karier atau pekerjaan. Bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Setiap orangtua pasti ingin mendampingi anak-anaknya ketika belajar, mengajak mereka bermain dan berekreasi ke tempat-tempat hiburan ketika ada waktu senggang. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit yang menilai bahwa dewasa ini semakin berkurang perhatian ayah dan bunda anak-anak di Indonesia. Kesibukan pekerjaan telah menyita perhatian mereka dan merampas kesempatan untuk mendampingi perkembangan anak-anaknya. Namun, saat ini para orangtua di Indonesia lebih banyak memiliki wa...