Menarik apa yang
ditulis Seto Mulyadi dalam opininya berjudul Virus Korona dan Keluarga Indonesia (Media Indonesia, 20/3/2020). Mencuplik studi yang dimuat dalam The Economist (2017), ia menjelaskan
bahwa para orangtua dari kelas menengah di 11 negara maju dewasa ini
menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak-anak mereka. Mereka lebih banyak
memperhatikan perkembangan anak-anaknya, tinimbang perhatiannya terhadap hal
lain seperti karier atau pekerjaan.
Bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Setiap orangtua pasti ingin
mendampingi anak-anaknya ketika belajar, mengajak mereka bermain dan berekreasi
ke tempat-tempat hiburan ketika ada waktu senggang. Namun, pada kenyataannya,
tidak sedikit yang menilai bahwa dewasa ini semakin berkurang perhatian ayah
dan bunda anak-anak di Indonesia. Kesibukan pekerjaan telah menyita perhatian
mereka dan merampas kesempatan untuk mendampingi perkembangan anak-anaknya.
Namun, saat ini para orangtua di Indonesia lebih banyak memiliki waktu
untuk bercengkerama dengan keluarga dan memperhatikan perkembangan
anak-anaknya, terutama sejak diberlakukannya social distancing (belajar di rumah, bekerja di rumah, ibadah di
rumah) di tengah merebaknya coronaavirus
disease (covid-19), atau yang lebih dikenal dengan virus korona.
Sebagaimana diberitakan di banyak media dalam dan luar negeri, virus
korona yang awalnya berasal daari Kota Wuhan, Tiongkok, telah menyerang
sejumlah negara dan menewaskan ribuan orang. Italia, Amerika Serikat, Iran, dan
lainnya, adalah negara yang rakyatnya banyak terdampak korona. Virus yang saat
ini sedang dibuat vaksinnya tersebut telah melumpuhkan banyak sektor seperti perekonomian,
perdagangan, aktivitaas dunia pendidikan, bahkan ritual ibadah umat beragama di
dunia.
Sejumlah negara, bahkan telah
memutuskan untuk lockdown seperti
Tiongkok, Iran, India, Italia, dan negara-negara lain yang terdampak virus
tersebut. Lalu, bagaimana di indonesia? Dilansir detik.com, per 4 April 2020, ada lebih 2000 orang terdampak virus korona.
Jumlah ini mengalami peningkatan yang signifikan karena setiap hari lebih dari
100 kasus ditemukan di beberapa daerah. Karena itu, meskipun pemerintah belum
memutuskan untuk lockdown—karena berbagai
pertimbangan—sebagaimana negara-negara lain, tetapi pemerintah sudah
menyarankan untuk melakukaan karantina wilayah. Mobilitas masyarakat yang cukup
meningkat karena banyak yang mencuri start
mudik sebelum lebaran tiba, membuat pemerintah daerah harus memperketat
penjagaan dan pemeriksaan bagi siapa saja yang datang dari kota atau provinsi
yang terdampak korona.
Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, misalnya, sejak dua
minggu terakhir telah memperketat pemeriksaan arus kendaraan yang masuk ke Kabupaten
paling Timur Madura tersebut. Di perbatasan Kabupaten Sumenep dan Pamekasan, pemerintah
telah menerjunkan tenaga medis dan kepolisian untuk melakukan pemeriksaan
terhadap para pemudik, khususnya yang datang dari daerah yang berada di zona
merah covid-19.
Mendampingi Anak Belajar Daring
Sejak pemerintah
mengeluarkan Surat Edaran Kemendikbud No 36603/A.A5/OT/2020 pada 15 Maret 2020,
sejumlah satuan pendidikan telah memberlakukan pembelajaran secara daring. Hal ini
tentu merupakan pengalaman baru yang dialami siswa dan mahasiswa untuk menerima
pelajaran secara online lewat
aplikasi media sosial. Kendatipun tidak dilaksanakan dengan tatap muka,
pembelajaran diharapkan tetap berlangsung secara efektif, meskipun butuh
perjuangan ekstra, terutama bagi pendidik dan pelajar yang selama ini belum
terbiasa dengan gawai atau aplikasi-aplikasi digital mutakhir.
Dalam sebuah
kesempatan, Mendikbud Nadiem Makarim mengharap para pendidik untuk lebih
meningkatkan kreativitasnya menghadapi perkembangan zaman. Dunia digital dan
perkembangan teknologi sekarang hendaknya dimanfaatkan untuk peningkatan
perkembangan siswa. Wabah covid-19 yang telah ditetapkan sebagai pandemi global
oleh WHO, bukanlah alasan untuk tidak melaksanakan tugas mengajar. Sebaliknya,
aktivitas belajar secara online ini
menjadi pemicu untuk meningkatkan kreativitas diri dalam mencerdaskan
siswa-siswanya.
Dalam bukunya berjudul Semua Anak Bintang (2018), Munif Chatib
menjelaskan bahwa, gaya belajar adalah respons yang paling peka dalam otak
seseorang untuk menerima data atau informasi dari pemberi informasi. Informasi
akan lebih cepat diterima oleh otak apabila sesuai dengan gaya belajar penerima
informasi. Apa yang disampaikan Munif Chatib sangat relevan dengan gaya improvisasi
pembelajaran yang dipraktikkan di masa wabah covid-19 saat ini.
Tak hanya guru,
orangtua juga harus bisa mengimbangi pembelajaran secara daring dengan
mendampingi dan mengarahkan anak-anaknya untuk lebih serius belajar kendatipun
jauh dari pengawasan guru, sebagaimana pembelajaran yang dilakukan dengan tatap
muka. Para orangtua harus bisa menjadi pendamping sekaligus pembimbing yang
baik ketika anaak-anak mereka harus tetap belajar di masa wabah.
Diberlakukannya social distancing dan physical distancing (jaga jarak), bahkan
penghapusan pelaksanaan Ujian Nasional yang selama ini menjadi tolok ukur
kelulusan siswa, merupakan upaya pemerintah untuk menekan angka korban korona
yang jumlah penularannya sudah sangat mengkhawatirkan. Imbauan pemerintah untuk
tidak melakukan aktvitas yang banyak melibatkan kerumunan orang hendaklah
benar-benar diperhatikan, sampai virus korona benar-benar bisa dibasmi. (*)
*)
Untung Wahyudi, lulusan UIN Sunan Ampel, Surabaya
Komentar
Posting Komentar