Judul : Belahan Jiwa
Penulis : Tasaro GK
Penerbit : Qanita
Cetakan : Pertama, Desember 2020
Tebal : 168 Halaman
Peresensi : Untung Wahyudi
Enam belas tahun
bukanlah jarak waktu yang singkat dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Butuh
proses, kesabaran, serta perjuangan untuk menjalani fase hidup bernama pernikahan,
karena banyak problematika yang lazim dihadapi oleh sepasang suami-istri dalam
mengayuh biduk rumah tangga.
Tasaro GK,
penulis yang selama ini banyak menerbitkan karya fenomenal ini, meramu cerita
sehari-hari menjadi kisah-kisah inspiratif yang berhubungan dengan kehidupan
rumah tangga. Dari bagaimana memaknai pernikahan, pertengkaran, masalah
keuangan, bagaimana menyikapi pertanyaan klise yang lazim dilayangkan pada
sepasang suami-istri: kapan punya anak?, hingga tentang perselingkuhan yang
menjadi permasalahan pelik dalam berumah tangga.
Isu
perselingkuhan belakangan ini begitu gencar diperbincangkan sehingga, menjadi trending
topic di sejumlah media sosial. Isu yang menyeret sosok selebritis yang
namanya mulai naik daun lewat lagu-lagu religi tersebut semakin panas
dibicarakan. Warganet—dengan segala ke-kepo-annya—begitu bebas beropini
dan berspekulasi tentang isu yang begitu santer dibicarakan.
Dalam buku Belahan
Jiwa, Tasaro mengupas masalah perselingkuhan yang kerap terjadi di
masyarakat. Apa saja faktor penyebab seseorang berselingkuh dan bagaimana
menyikapinya? Penulis menegaskan, salah satu penyebab seseorang mengikuti
kehendak hatinya untuk berselingkuh adalah, kemungkinan karena dia “merasa
ada orang lain yang lebih baik” dibanding pasangannya.
Jika suami istri
merasa faktor ini potensial membuat hubungan dengan pasangan terganggu, yang
harus diperbaiki adalah pola komunikasi di rumah. Harus dipastikan bahwa kritik
yang membangun, menjadi bagian tak terpisahkan dalam relasi suami istri. Dengan
berbicara terbuka tentang apa yang suami istri inginkan, kecenderungan itu bisa
dicegah.
Faktor lain
adalah “terbawa suasana”. Potensi ini sering muncul pada seseorang yang
mudah jatuh cinta. Dia mudah sekali mengatakan “cinta” ketika dia merasa nyaman
berada di dekat seseorang. Hanya karena sering bersama dalam sebuah proyek atau
pekerjaan, dia akan mudah jatuh hati pada orang yang baru dikenalnya (hlm. 130).
Masalah lain
yang kerap menimpa sepasang suami istri adalah ketika tak kunjung mendapatkan keturunan.
Mereka merasa lelah dan resah saat belum juga dikarunia buah hati. Kehadiran
seorang anak sangat dirindukan untuk melengkapi kehidupan keluarga.
Semua orang
pasti merindukan kehadiran anak. Namun, ada yang begitu cepat dikarunia
keturunan, dan ada juga yang harus memanjangkan kesabaran ketika Tuhan belum
juga menitipkan amanah buah hati kepada mereka.
Bagaimana seseorang
menyikapi masalah ini? Ketika sesuatu yang didamba-damba itu kunjung datang? Haruskah
mereka menuntut Tuhan dan menganggapnya sebuah ketidakadilan karena tak kunjung
menitipkan buah hati pada meraka yang telah lama berumah tangga?
Tasaro
menegaskan, setiap orang punya kesempatan untuk berusaha dengan optimal, karena
setiap orang yang menikah tentu menginginkan keturunan sebagai penerus
generasi. Setelah usaha optimal, kemudian serahkan kepada Sang Maha Kuasa.
Jangan sampai ketidakhadiran anak—karena belum dikarunia oleh-Nya—menjadi
pemicu kericuhan dalam rumah tangga. Saling menyalahkan sama sekali bukan jalan
keluar. Sebaliknya, hal ini justru akan membuat pasangan suami istri semakin
terpuruk. Langkah yang wajib dilakukan adalah menggandeng tangan pasangan dan
menjadikan masalah ini sebagai tantangan bersama (hlm. 152).
Sementara itu,
rasa boring atau bosan pasti menghinggapi pasangan suami-istri yang baru
setahun-dua tahun menikah. Bahkan, pernikahan yang baru seumur jagung sudah
harus berakhir karena rasa bosan yang mendera salah satu pihak.
Jika hal ini
terjadi, harus dikomunikasikan dengan serius. Bagaimana agar sepasang suami istri
bisa mengatasi kebosanan terhadap pasangan? Menurut Tasaro, yang perlu dilakukan adalah menikmati
hobi di rumah seperti membaca novel, nonton drama korea, atau film lain
kesukaan.
Cara lain adalah
membuat janji dengan teman. Suami atau istri bebas memilih teman yang sekiranya
bisa mendatangkan kegembiraan dan mengusir rasa bosan. Bersama teman lama,
berbagai pilihan kegiatan lain yang kita sama sekali tak menguasainya. Seperti memancing,
atau tamasya kecil-kecilan asal bisa membunuh rasa bosan di rumah (hlm. 68).
Selain
permasalahan yang dibahas di atas, ada beberapa permasalahan lain yang lazim
terjadi dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Semua dibahas dengan pembahasan
yang menarik dan solutif. Dari pembahasan-pembahasan dalam buku ini, Tasaro GK
ternyata tak hanya piawai meramu cerita fiksi—sebagaimana dalam beberapa
novelnya seperti Muhammad Sang Penggenggam Hujan, Galaksi Kinanti, Samita,
dll.—tetapi juga lihai menceritakan kisah-kisah keseharian dalam rumah tangga
menjadi cerita yang menarik untuk dibaca.
Lewat buku 168
halaman ini, pembaca bisa belajar bagaimana mengarifi kisah-kisah dalam rumah
tangga. Tak hanya bermanfaat bagi sepasang suami istri, buku ini juga bisa
disimak oleh siapa saja yang tertarik membaca kisah-kisah inspiratif seputar
kehidupan berumah tangga.
Ada banyak
hikmah yang bisa pembaca petik dari buku bersampul manis ini. Lewat buku Belahan
Jiwa yang diterbitkan Qanita-Mizan ini, kita bisa belajar memaknai cinta
dan kesetiaan dalam bingkai pernikahan. Seperti ditulis dalam prolog bukunya,
Tasaro menjelaskan bahwa, dalam pernikahan, hal yang lebih penting untuk
dipersiapkan adalah kesanggupan mengambil risiko. Ketika seseorang memutuskan
untuk menikah, dia harus bisa dan sanggup menjalani segala kemungkinan yang
bakal terjadi. Siap untuk menyambut masa
manis dan pahit dalam berumah tangga. (*)

Komentar
Posting Komentar